Menjadi Passionate
Bagi saya, program Asistensi Mengajar MBKM Universitas Negeri Malang adalah bagian dari perjalanan paling menakutkan di tahun 2022. Belajar, orang baru, serta lingkungan disekitarnya mungkin akan menjadi masalah di enam bulan kedepan. Mengajar bukan passion saya, tapi kalau melakukan semua hal harus berdasarkan passion, mungkin saja saya tidak sampai disini. Di perjalanan memperbaiki kualitas hidup, menuju kehati-hatian, membaca perilaku orang, dan berusaha membuat diri peka terhadap keadaan. Dan dihari-hari berat berikutnya, saya mencoba mengubah arah ketertarikan saya pada kegiatan yang tidak saya impikan sebelumnya. Karena Joseph Campbell dalam tulisannya mengatakan “Passion will move men beyond themselves, beyond their shortcomings, beyond their failures”. Artinya ketertarikan yang kuat akan menggerakan seseorang melampaui dirinya, melampaui kekurangannya, melampaui kegagalannya. Tahapan tidak tertarik menuju ketertarikan sejatinya membutuhkan begitu banyak proses. Mari menyelami prosesnya.
Tidak tertarik.
Di hari pertama observasi sekolah, SMK Negeri 1 Batu tepatnya. Saya berdoa semoga saya dan teman-teman betah, guru ramah, beserta siswanya yang peduli. Saya belajar beberapa kosakata SMK yang tidak saya ketahui, karena dasarnya saya bukan lulusan SMK. Tulisan itu saya catat dan cari di internet, bermaksud untuk mendapatkan banyak rentetan informasi lainnya disana.
Agenda selanjutnya adalah FGD (Focus Group Discussion), kebetulan dosen yang mengantarkan kami merupakan dosen bidang studi Tata Boga yang belum saya kenali sebelumnya. Dalam sambutannya beliau mengatakan “Mohon maaf Bapak/Ibu, berdasarkan pengamatan saya, anak zaman sekarang kepekaannya kurang. Saya mengambil contoh tadi ketika saya datang, tidak ada satupun mahasiswa yang menyambut saya, senyum, atau sekedar bersalaman”.
Kalimat tersebut saya buktikan di lingkungan belajar siswa SMK. Benar memang, generasi sekarang entah penyebutannya generasi Z, millennial, atau stroberi di era yang serba digital ini mereka kurang mampu memahami arti kepekaan sosial dan sulit menerapkannya. Faktanya di kelas, ketika saya masih dalam tahap pendampingan dengan guru mata pelajaran, seorang siswa menunjuk saya, berbicara lantang, seperti peran saya sebagai teman sebayanya. Hari-hari berikutnya saya temukan peristiwa serupa di lobi, berbicara kotor dianggap biasa saja.
Kepekaan sosial.
Apa dan bagaimana kepekaan itu dapat dilatih?
Kepekaan sosial atau social sensitivity diartikan sebagai kemampuan individu untuk bereaksi secara tepat terhadap orang lain. Pada dasarnya kepekaan sosial itu tidak dapat muncul begitu saja. Peka itu perlu ditanam, dibentuk, dan dilatih sejak dini. Pembentukan kepekaan dilakukan oleh orang tua, guru, serta lingkungan.
Mulai tertarik.
Di hari saya mengajar, saya berperan sebagai guru yang peka terhadap siswanya. Ada tiga siswa lelaki istimewa yang terlihat enggan mengikuti pelajaran, tidak mengerjakan tugas atau sulit melaksanakan perintah. Ternyata siswa seperti mereka memang butuh dorongan. Saya berusaha untuk melakukan pendekatan, membuat obrolan basa-basi padahal isinya adalah menggali informasi, siapa tahu saya bisa membantu mereka. Memperhatikan mereka dengan penuh daripada siswa lain yang memang sudah patuh pada aturan.
Mereka adalah korban dari sistem zonasi berupa pemerataan jurusan di SMK. Awalnya ada yang memilih jurusan tata boga dan perhotelan, karena kuotanya penuh dimasing-masing jurusan mereka diarahkan untuk masuk di jurusan tata busana. Tiga tahun terkurung diantara tuntutan sekolah. Sudah ada diskusi antara siswa, orang tua, dan guru, namun titik terangnya adalah menerima, karena masalah ini tidak hanya terjadi di tiga siswa tersebut saja, akan kita temukan di sekitar, termasuk didiri saya. Mungkin yang bisa saya lakukan adalah memberikan konseling, arahan, bantuan berupa media pembelajaran yang mempercepat penyelesaian tugas-tugas mereka.
Tertarik.
Menurut Latuheru (1998), media pembelajaran adalah bahan, alat, atau teknik yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar dengan maksud agar proses interaksi komunikasi edukasi antara guru dan siswa dapat berlangsung secara tepat guna dan berdaya guna. Media pembelajaran dalam memudahkan siswa mempelajari materi pelajaran.
Sebelumnya tujuan saya yaitu menjalankan tugas. Selanjutnya tujuan saya adalah menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya. Kebetulan mendapat bagian mengajar di mata pelajaran praktik seperti Teknologi Menjahit dan Dasar Desain. Seperti pada umumnya sebagai bentuk pemanfaatan teknologi, saya menggunakan power point untuk menjelaskan materi. Di mata pelajaran Teknologi Menjahit, saya melakukan demonstrasi didepan kelas menggunakan fragmen, menjelaskan tahapannya terlebih dahulu sebelum melakukan praktik. Contohnya pembuatan belahan manset kemeja, kerah shanghai, dan totebag dengan menerapkan manipulating fabric menggunakan limbah. Untuk pengerjaan dirumah membagikan link video proses pembuatannya. Selanjutnya di mata pelajaran Dasar Desain, setelah siswa mempraktikkan bagaimana membuat proporsi tubuh yang benar, mereka diarahkan untuk membuat beberapa mal cetakan. Media ini dimaksudkan dalam jangka panjang, ditujukan kepada siswa yang mengalami permasalahan menggambar terlalu lama atau kurang mampu menggambar tubuh manusia secara proporsional. Tidak hanya itu, saya juga mengenalkan aplikasi desain, salah satunya Corel Draw. Karena ternyata, ketika ditanya apa saja aplikasi desain yang biasa digunakan untuk membuat desain busana, tidak ada satupun siswa yang menjawab benar. Padahal untuk mengikuti arus perkembangan teknologi, perlu dilakukan pengenalan media-media pembelajaran modern sebagai penopang peminatan siswa.
Karena media pembelajaran dan teknik mengajar yang digunakan dirasa belum cukup membantu siswa, saya membuat kelas tambahan diluar jam pelajaran. Kelas tambahan dibuat nonformal, opsional, dan fleksibel. Artinya setiap siswa dapat mengikuti kelas atau tidak dan dapat memulai serta mengakhiri kelas kapan saja dengan rentang waktu yang telah ditentukan. Kelas tambahan gratis ini dilaksanakan dengan tujuan mengurangi pekerjaan siswa untuk beberapa tugas yang belum terselesaikan dengan tepat waktu.
Bagaimana respon siswa setelah melakukan pendekatan dan melihat cara mengajar saya?
Ada yang berubah ada pula yang tidak, terlebih pada satu kelompok belajar yang menonjol didalam kelas. Anggotanya adalah dua siswi dan ketiga siswa tersebut. Percayalah, yang pertama kali menunjuk saya tanpa hormat, di hari berikutnya memeluk saya dengan erat, meminta maaf atas perlakuannya. Yang membuat gaduh, selanjutnya sering-sering berkonsultasi, menanyakan setiap tahap pengerjaannya, meminta tutorial, dan lain sebagainya. Yang menunduk acuh dan tidak menghiraukan perkataan saya, akhirnya siswa tersebut berani bercerita, menjalankan tugas meski dengan helaan nafas panjang. Dipikiran saya, biarkan hari ini mereka terpaksa, dan biarkan saja keterpaksaan mereka menjadi sebuah kebiasaan.
Proses merubah arah passion akan jadi tantangan besar untuk kita. Melakukan hal yang tidak kita senangi bukan pekerjaan yang mudah, bukan juga kesengsaraan yang nyata. Dan benar memang disalah satu kutipan motivasi yang pernah saya baca menegaskan “Passion bukan hanya mengerjakan yang kamu senangi, lebih penting adalah menyenangi apa yang kamu kerjakan”. Semoga kita bisa menjadi guru yang baik untuk orang-orang yang kita temui.


😍😍😍
BalasHapus