Bagaimana Bisa Saya Menyelesaikan Ini Dengan Tidak Tepat Waktu?
“Bagaimana bisa saya menyelesaikan
ini dengan tidak tepat waktu?”
Kalimat diatas bisa diartikan sebagai cara atau alasan untuk menyelesaikan sesuatu melebihi batas waktu yang ditentukan. Bisa jadi maksudnya:
Konteks kesengajaan. Apakah saya ingin sengaja melampaui tenggat waktu? Jika iya, mungkin ada alasan tertentu, seperti memastikan kualitas hasil yang lebih baik atau menghindari tekanan.
Konteks ketidaksengajaan. Apakah saya tidak sengaja ‘menyelesaikan ini dengan tidak tepat waktu’ karena hambatan, mungkin menyangkut manajemen waktu, beban kerja, atau tantangan lainnya?
Agar lebih jelas, saya berikan detail tentang situasi yang saya hadapi, sebagai arsip penolakan mengenai kalimat ‘hanya orang bodoh yang tidak lulus tepat waktu’.
Konteks kesengajaan.
Pada konteks ini saya ingin menjelaskan mengenai tahun ketiga berorganisasi di UKM Sanggar Minat: menjadi anggota Bidang Pameran, CO Pameran, dan Wakil Ketua Umum sebuah pilihan yang seharusnya bisa saya tolak, sayangnya tidak saya lakukan. Atas dasar bahwa terlambat lulus dengan tujuan mencari jalan untuk keberlanjutan kariermu tidak jadi masalah. Selama ada sesuatu yang kau dapatkan disana. Organisasi ini bersifat non-profit, pastinya tidak ada uang didalamnya, klise jika saya bilang hidup didalamnya adalah sebagai peningkatan personal soft skills: komunikasi, empati, manajemen waktu, keterampilan interpersonal, kepemimpinan, penyelesaian masalah, fleksibilitas dan adaptabilitas. Ah, sayalah yang merasakan klise terbaik itu. Saya manfaatkan kepemilikan saya terhadap UKM Sanggar Minat dengan belajar ukulele, bercerita dengan manusia-manusia aneh, membuka lembar per-lembar katalog pameran di pojok perpus, memakan nasi kuning yang masih segar dari penerbangan Palu malam itu, melompat dari jendela Sekretariat Ormawa yang redup cahaya, menata batu bata sebagai lintasan motor agar bisa keluar melewati palang, mengendarai pelan ban yang gembos karena satpam, menonton pemural handal, tidak lupa yang sangat menarik adalah menembus kurasi pameran di Solo. Itulah pertama kalinya saya mengendarai motor dengan jarak jauh, bergantian. Jika waktu itu saya lolos SNMPTN Seni Rupa Institut Seni Indonesia (ISI) yang merupakan tujuan sebenarnya, sebesarnya, saya tidak akan merasakan nikmatnya balas dendam.
Konteks ketidaksengajaan.
Saya adalah orang yang tidak modal katanya. Barang yang saya perlukan untuk keberlangsungan skripsi kurang fungsional dan tidak kompatibel, itupun hasil pinjaman. Bersyukurlah orang-orang yang diberikan fasilitas baik oleh lingkungan sekitarnya. Setelah itu, bermunculan distraksi berupa tawaran menyenangkan seperti job, berkarya, bersenang-senang, didampingi hambatan eksternal. Saya ambil mentah-mentah, memberikan manfaat refreshing, karena waktu-waktu tidak akan saya gunakan hanya untuk mengerjakan revisi-an.
Distraksi finansial. Kadang saya menjelma jadi asisten make-up artist, sylist, promotor, tailor, decorator, tim pengrajin, atau asisten pemateri. Alhamdulillah, pengalaman berharga saat pergi ke tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Memahami segmentasi pasar Jakarta, seperti preferensi berpakaian. Unik, desain busana avant garde namun ready to wear diisi fabric manipulation, warna nyentrik, atau motif-motif estetik akan sangat laku disana. Sedikit tahu mengenai make-up, merasakan kerja pukul 01.00 hingga sore. Pekerjaan yang terlihat ringan, namun setelahnya bisa ada tangis berjam-jam. Tiba-tiba jadi florist, lalu mendekorasi minimalis dipernikahan orang. Alibi memakai peran volunteer, namun berjalannya waktu ada nominal bayaran ditangan. Terakhir yang paling sempurna adalah mengajari ‘manusia istimewa’ di kegiatan workshop dengan tawa disanding empati mendalam. Bisa saja yang saya lakukan hari ini jadi impian orang lain.
Distraksi kebutuhan. Saya anggap ini adalah kebutuhan, karena pekerjaan asli saya adalah sebagai pengkarya. Ditahun 2023, saya menemukan eksekutor terbaik yang mau mendengarkan ide-ide yang bisa jadi impulsif, menargetkan setiap tahunnya untuk submission karya ke luar kota. Karena semakin tua usia saya, keinginan berkarya secara cuma-cuma semakin menurun. Karya yang saya buat harus punya tempat dan tujuan. Tidak hanya karya 2D, saya membuat pakaian untuk dikenakan secara pribadi, hadiah teman, atau kebutuhan pameran, agar ilmu kuliah tidak sia-sia.
Distraksi keinginan. Dengan alasan agar tetap waras, maka jangan lupa bersenang-senang! Sekedar ke angkringan, thrifting sepuasnya, touring ke luar kota dengan sedikit tujuan, melakukan pendakian untuk melihat warna kesukaan (hijauuuuu). Menjadwalkan ulang bimbingan, karena sudah ada janji dengan teman.
Hambatan. Bagian yang paling bermakna dari perjalanan skripsi yang pelan-pelan ini adalah tidak semua pengajar, bisa mengajar. Menjadi pengajar yang efektif memerlukan lebih dari sekedar pengetahuan di bidangnya, tetapi juga keterampilan pedagogis dan empati terhadap peserta didik. Bisa jadi usahamu sudah cukup baik, tapi doa untuk menaklukkan dosen-dosenmulah yang kurang kuat. Tetap lakukan, berjalan saja! Sesekali sogoklah dengan buahahaha.
Ada kutipan Steve Jobs yang sedikit membenarkan situasi ini. “Jika kamu ingin berjalan cepat, berjalanlah sendiri. Jika kamu ingin berjalan jauh, berjalanlah bersama. Perjalanan yang berarti bukan tentang seberapa cepat kamu sampai, tapi dengan siapa kamu berbagi langkah”. Akhirnya, terima kasih yang teramat besar untuk Ibu dan Bapak, orang paling ikhlas yang membantu kehidupan kuliah saya. Serta teman-teman baik yang memberikan pengalaman berharga diantara keterlambatan saya.


Komentar
Posting Komentar