3 Tahun di Sanggar Minat, 23 Tahun di Dunia


“Ditunjuk menjadi pemimpin, tidak menunggu kamu siap”.

Begitu sedikitnya yang saya pelajari di salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) milik Universitas Negeri Malang. Lingkupnya dibatasi, agar fokus, bergerak di bidang seni, desain, dan kerajinan. Namun yang saya pelajari lebih banyak adalah manajemen organisasinya. Sanggar Minat hidup karena manusianya. 

Perihal manusia, saya baru menemui banyak jenisnya, disini. Saya pikir sifat hanya ada baik dan buruk, tapi saya lebih percaya dengan kutipan Jason Ranti di buku Kitab Pink yang sampai saat ini belum berada ditangan saya, begini kalimatnya “manusia itu multidimensi, tidak ada baik yang baik, tidak ada jahat yang jahat”. Lalu saya terapkan hal itu dalam pengambilan keputusan, bersama Raka tentunya, yang barangkali hanya tersampaikan ke-beberapa orang saja, pastinya masih ada protes. 


  1. Pendekatan manusia.

Saya tidak memiliki teori mendalam mengenai ini, membacapun dapat dikatakan tidak pernah. Banyak asumsi atau sudut pandang orang lain yang mendominasi pikiran kita. Yang dapat saya lakukan adalah berusaha menjadi netral dan terbuka, semua hal ada alasannya. Kuncinya ada pada komunikasi: komunikasi dengan yang pro, yang kontra, dan yang bersangkutan tentunya. Saya ceritakan mengenai dua orang baru ini.

Pembuktian.

Saya mendapat banyak laporan mengenai orang pertama, begitu sebutannya. Banyak yang tidak mentolerir perlakuannya, memang menyimpang, kurang taat aturan, dan “man of the match” dengan konsekuensi paling tinggi. Ketika saya berbicara dengannya, sopan, asik, sepertinya tidak se-bermasalah itu. Saya tahu pasti, organisasi ini tidak kaku. Tidak semua yang bertahan disini adalah yang taat aturan, menurut saya yang bertahan adalah mereka yang memiliki tujuan. Selanjutnya, asumsi orang-orang tentangnya melebur, orang yang hari ini mengepalai teman-temannya adalah yang beberapa bulan lalu mendapat banyak teguran. Saya sebut orang pertama ini pandai mencari kawan dan mempengaruhi  orang lain.

Belum ada pembuktian.

Saya mendapat lebih banyak kontra mengenai orang kedua. Menjadi yakin ketika berbicara dengan yang bersangkutan, mendukung penuh dengan yang pro, dan dipatahkan oleh beberapa yang kontra. Aturan tidak menjadi jelas ketika tidak ditulis. Tapi tidak semua keputusan ada alasan tertulisnya. Maka hari ini, saya berusaha menuliskan apa yang belum tersampaikan kepada pengurus 2023 sekalian. Semoga dapat diterima. Menurut saya orang kedua ini introvert, butuh sekali untuk selalu diajak, tidak banyak bicara, tapi sekali lagi, dia punya tujuan di Sanggar Minat, cobalah berbicara dengannya. Detailnya, dia ingin berpameran, mengikuti perlombaan, dan dia merasa Sanggar Minat adalah wadahnya. Saat saya baca lagi essainya dia masih konsisten dengan ingin-inginnya yang itu. Satu folio penuh dihias, tidak lupa membubuhi rasa terima kasihnya pada paragraf terakhir. Dari situ saya belajar, penugasan melalui essai adalah perlu, sebagai media penyampaian gagasan atau keinginan. Karena tidak semua hal dapat disampaikan secara lisan, bisa jadi dia lebih jujur melalui tulisannya. Sedikit saya emaskan dia. Sopan, to the point, bahkan saat saya mencoba membawakan gelas plastiknya, dia beberapa kali menolak, ingin memegang dan membuangnya sendiri, hal kecil itu namanya rasa sungkan, dia masih punya itu. Berikutnya, kalau tidak niat, untuk apa dia berada disana saat itu? Sesudahnya, siapa yang menghargai Samin Karya challenge dan memenangkannya? Orang kedua itu, bacalah, saya menunggu karya-karyamu di Sanggar Minat, gabunglah secara penuh!


  1. Segalanya beresiko.

Segala keputusan beresiko, belajarlah bertanggung jawab dengan keputusan yang kita buat. Untuk orang-orang yang kemarin sempat ragu merealisasikan salah satu kegiatan baru, trial and error pastinya. Saya sudah bilang ini diawal, segalanya beresiko, banyak resikonya, mari dihadapi! Kita tidak dapat menyenangkan banyak orang dengan mengambil saran-sarannya. Terima kasih sudah turut mau menghadapinya. Dari kegiatan kemarin, saya tidak menyesal karena terlalu “ngengkel” kepada pihak yang menyewakan tempat. Kedua belah pihak salah, tidak apa-apa untuk terus “ngengkel” agar mendapatkan yang seharusnya, kalau perlu jangan cepat mudah menerima, belajar bernegosiasi.


  1. Apresiasi itu perlu.

Kutipan dari buku “How to Win Friends and Influence People” mengatakan bahwa “dalam hubungan-hubungan antarmanusia, kita seharusnya tidak pernah melupakan bahwa semua rekan kita adalah manusia dan mereka lapar akan penghargaan. Ini merupakan tender sah yang semua jiwa menikmatinya”. Saya merasa unggul dalam hal ini. Hal kecil yang barangkali masih disepelekan atau dianggapnya biasa saja sampai akhirnya lupa untuk dilakukan. Apresiasi penting untuk menyenangkan orang lain, untuk membuat orang merasa dihargai. Ketika saya amati, sebanyak-banyaknya orang mengkritik kalau dia juga mudah mengapresiasi, ia tetap akan dihargai. Maka teman-teman sekalian seimbangkan apresiasi dan kritik kalian!


  1. Kesempatan.

Selama ada, selama diberi, selama ada tawaran, ambil! Karena tidak ada yang berulang dan sama.


Sebelum menjadi sekarang, saya adalah orang yang pasrah dan “let it flow”, bukan perencana yang baik, jarang mencatat, beberapa kali dikritik karena catatan saya ambigu. Hingga ketika saya menyelam di Sanggar Minat saya bertemu dengan Pradita, belajar banyak darinya. Yang paham betul perubahannya adalah diri saya sendiri. Terima kasih sekali lagi. 

Perihal catatan, berikut adalah ingin saya yang belum terealisasikan di satu tahun kepengurusan, begini kurang lebihnya yang saya ingat.

  1. Merawat psikologi orang-orang

  2. Pameran lingkup busana khususnya anggota Sanggar Minat jurusan Tata Busana 

  3. Pameran Diklat kolaborasi Pitik Sumbo x Rang-Rang Abang

  4. Skripsi yang ada korelasinya dengan Sanggar Minat

  5. Submit karya di Artjog

  6. Workshop Fashion, berbayar, target audiens Mahasiswa Tata Busana, sumber inspirasi Tasya Kissty

  7. Mural dimana saja

  8. Keluar kota, naik kereta

  9. Mengadakan acara kolaborasi di Semeru Art Gallery

  10. Pameran dan bedah buku, di taman, lesehan

  11. Pelatihan dadakan di alam, dekat danau

  12. Menjadi mentor menggambar potret manusia menggunakan media karton dan krayon

  13. Kolaborasi T-shirt printing.


Barangkali, tulisan ini tidak akan membawa perubahan kepada siapa saja yang membacanya. Ini merupakan statement keberhasilan saya di Sanggar Minat sejauh ini, daftar diatas memang tidak terealisasi di tahun ini atau bahkan tahun-tahun setelahnya. Tapi tolak ukur keberhasilan saya bukan pada tercapainya ingin-ingin tersebut, namun ketika saya berdampak dan berperan.

Terima kasih pula orang-orang yang turut dan lebih besar dampaknya di Sanggar Minat: Mas Jo, Mbak Esti, dua personil Pandawa lainnya, 43 pengurus yang belum tersebutkan diatas, anggota aktif khususnya anggota baru diklat 31 yang selalu menghidupkan UKM. Sehat-sehat.



Maya Soeharto

Malang, 23 Desember 2023

Komentar

Postingan Populer